Ketika Dunia Bungkam Menyaksikan Genosida di Gaza

JAKARTAHITS.ID – “Saya seorang Saqaana, saya ingin ibu saya, saya ingin ayah saya.” Begitulah tangisan seorang anak yang terluka dalam pengeboman pendudukan Gaza. Videonya beredar di sosial media instagram melalui akun @hani.aburezeq
Hati siapa yang tidak pilu mendengar tangisan anak tersebut. Sudah lebih dari satu bulan penduduk Gaza merasakan situasi mencekam akibat perang antara kelompok Hamas dengan Israel yang terjadi sejak 7 Oktober lalu. Ya, hingga saat ini warga sipil Palestina terus diterpa duka mendalam karena serangan yang dilancarkan oleh tentara Israel.
Banyak warga sipil yang terluka dan meninggal akibat pengeboman tersebut. Banyak masyarakat dunia yang mengecam tindakan Israel ini karena melakukan penyerangan secara brutal dan terang-terangan berani melanggar hukum perang internasional. Mereka bahkan dengan sengaja menjatuhkan bom di wilayah pemukiman penduduk dengan dalih tempat persembunyian Hamas.
Baca Juga: Tinggalkan Kesan Mendalam Melalui Wewangian
Masyarakat dunia pun dibuat semakin geram oleh tindakan Israel karena dengan sengaja menargetkan wanita, ibu hamil dan anak-anak sebagai korbannya. Hati ibu mana yang tidak sedih melihat banyaknya anak-anak yang terluka, ketakutan dan meninggal.
Selain warga sipil, pasukan Israel ini juga telah banyak menyerang para jurnalis hingga terluka dan sampai meninggal. Tindakan tersebut tidak bisa dibenarkan karena jurnalis salah satu profesi yang tidak boleh dibunuh dalam perang.
Sampai saat ini sudah lebih dari 10 ribu korban tewas, di mana 4 ribu diantaranya adalah anak-anak. Sekolah dan tempat ibadah yang dijadikan tempat berlindung bagi warga sipil, kini sudah rata di bom oleh Israel.
Kondisi Gaza menjadi semakin pilu karena Israel menahan dan mempersulit bantuan yang masuk untuk Palestina. Banyak warga yang terancam kelaparan dan kehausan. Hal ini karena Israel menghancurkan semua infrastruktur yang ada di Gaza yang mengakibatkan terputusnya aliran listrik, air, jaringan internet dan makanan.
Tindakan yang dilakukan oleh Israel ini sudah diluar batas dan sangat melanggar hukum. Apa yang mereka lakukan saat ini bukan lagi untuk membela diri, melainkan tindakan genosida. Penderitaan warga Palestina semakin bertambah berat karena tentara Israel juga melakukan pengeboman di beberapa area sekitar rumah sakit yang ada di Gaza. Bahkan Rumah Sakit Indonesia di Gaza saat ini lumpuh, berhenti beroperasi karena pasokan bahan bakar untuk listrik, dan juga persediaan obat-obatan juga habis.
Baca Juga: Bahaya Penggunaan Kipas Angin Saat Tidur
Rumah Sakit Lumpuh
Direktur Rumah Sakit Indonesia, di Gaza, Atef al-Kahlout mengatakan bahwa “Kami tidak bisa menawarkan layanan apa pun lagi, kami tidak bisa menawarkan tempat tidur apa pun kepada para pasien”. Hal ini berdasarkan laporan yang dilansir dari Al Jazeera (16/11) waktu setempat.
Al-Kahlout juga menambahkan bahwa departemen-departemen yang ada di Rumah Sakit Indonesia “tidak bisa melaksanakan tugas-tugas mereka”.
Tidak ada tempat aman lagi yang tersisa di Gaza, termasuk rumah sakit sekalipun. Pasukan militer Israel juga menyerbu rumah sakit Al-Syifa yang merupakan rumah sakit terbesar di Gaza. Mereka menggeledah rumah sakit tersebut, dan menyebutnya sebagai kebutuhan operasi militer karena menganggap Hamas bersembunyi di basement rumah sakit tersebut.“
Berdasarkan informasi intelijen dan kebutuhan operasional, pasukan IDF (Angkatan bersenjata Israel) melakukan operasi tepat dan terarah terhadap Hamas di area tertentu di Rumah Sakit Syifa” bunyi pernyataan militer Israel.
Gencatan Senjata di Gaza Tak Kunjung Berhasil
Melihat kondisi Gaza yang sangat memprihatinkan akibat serangan Israel, masyarakat dunia terus mendesak negara-negara di dunia untuk menyerukan genjatan senjata untuk kemanusiaan . Namun, hingga kini seruan genjatan senjata masih gagal.
Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu bersikap kukuh menolak gencatan senjata dengan dalih masih ada sandera.
“Keputusan kabinet cukup jelas, tak akan ada gencatan senjata hingga para sandera dikembalikan” ujar Netanyahu dikutip dari Haaretz.
Dewan Keamanan PBB gagal lagi menciptakan konsensus untuk menghentikan perang antara Israel dan Humas di Jalur Gaza. Hal ini disebabkan sikap Amerika serikat (AS) dan Inggris yang menentang rencana resolusi karena menyebut genjatan senjata.
“Belum ada kesepakatan pada saat ini” tegas Wakil Duta Besar AS untuk PBB, Robert Wood.
Dilansir CNN Indonesia (20/11), Presiden AS Joe Biden terang-terangan menolak gencatan senjata di Jalur Gaza, Palestina. Biden mengatakan gencatan senjata tidak akan mencapai perdamaian.“
Selama Hamas berpegang teguh pada ideologi kehancurannya, gencatan senjata bukanlah perdamaian. Bagi anggota Hamas, setiap gencatan senjata adalah waktu yang mereka manfaatkan untuk membangun kembali persediaan roket mereka, memposisikan kembali pejuang, dan memulai kembali pembunuhan dengan menyerang orang tidak bersalah lagi” ucap Biden dalam artikel di Washington Post.
Sampai saat ini, masyarakat di berbagai belahan dunia masih melakukan berbagai aksi untuk melihatkan keberpihakkan mereka kepada Palestina dengan turun ke jalan melakukan demo, memboikot produk-produk yang pro Israel. Bahkan beberapa negara pun sudah melakukan pemutusan hubungan diplomatik dengan negara Israel, diantarnya Bolivia, Kolombia, Yordania, Chile. (SRV)




One Comment