Jaga Kesehatan Pernapasan, Perhatikan Kualitas Udara di Sekitar

JakartaHits.id – Kualitas udara terutama di kota-kota besar seperti Jakarta sangat rentan dengan polutan yang bisa mengganggu kesehatan pernapasan.

Bahkan banyak pengamat iklim dan lingkungan  berpendapat bahwa polusi udara bisa meningkat disaat musim kemarau.

Pengamat iklim dan lingkungan Universitas Gadjah Mada, Dr. Emilya Nurjani, S.Si., M.Si., menerangkan bahwa udara di musim kemarau dengan curah hujan dan kecepatan angin yang rendah sedikit banyak bisa mempengaruhi tingkat polusi.

Untuk menjaga kesehatan pernapasan Dokter spesialis anak subspesialis respirologi dr. Wahyuni Indawati, Sp.A, Subsp. Respi (K) dalam sebuah acara mengingatkan masyarakat untuk lebih aware terhadap polusi  udara.

  1. Wahyuni menjelaskan bahwa saat ini masyarakat memilikiakses yang lebih luas untuk memantau kulitas udara di berbagai aplikasi.

“Informasi terkait fluktuasi (kualitas udara) kapan dia buruk, kapan sedikit lebih baik. Jadi paling enggak kita lebih aware terhadap kualitas udara tersebut,” ujar dokter Wahyuni

Ia juga menyarankan untuk tetap memperhatikan kualitas udara  saat berada dalam ruangan, karena menurutnya kualitas udara dalam ruangan bisa saja terpolusi oleh asap rokok dan sejenisnya

“Karena ternyata, ketika asap rokok itu terhirup, maka gerakan yang kita sebut sebagai silia di saluran napas kita itu enggak bergerak, berhenti. Makanya akhirnya jadi grok-grok, lendirnya banyak karena tertumpuk di situ,” tuturnya

Ia juga mengingatkan jika anak-anak terlanjur mengalami gangguan pernapasan seperti sesak napas atau batuk, perhatikan dengan seksama penyebab batuknya.

Penanganan batuk pada anak seperti menggunakan nebulisasi atau inhalasi menurut dr. Wahyuni harus disesuaikan dengan penyebabnya karena tidak semua anak yang batuk  harus di nebulisasi

“Jika anak batuk karena ia menderita cough variant asthma yaitu penyakit asma pada anak memang perlu mendapatkan nebulisasi,” ujar dr. Wahyuni

Lebih lanjut dr. Wahyuni menejelasakan bahwa nebulisasi  diperlukan pada kondisi yang mengalami infeksi saluran pernapasan, penyakit paru kronik, bronkiektasis, atau pada anak yang memiliki kelemahan otot pernapasan sehingga susah untuk batuk.

“Pada kondisi-kondisi khusus tersebut tentu kita bisa memberikan bantuan tadi untuk bisa mengeluarkan batuk dengan efektif, tujuannya itu,” ujar dokter yang praktik di RSCM Jakarta ini

Ia juga menyampaikan bahwa penggunaan alat nebulizer untuk nebulisasi atau terapi inhalasi yang tidak tepat berisiko memicu efek samping.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button