Hati-hati Jangan Remehkan Penumpukan Lemak Di Area Perut
JakartaHits.id – Orang dengan kelebihan berat badan atau obesitas kerap kali menganggap hanya persoalan yang berkaitan dengan persoalan berat badan, padahal sesungguhnya bukan hanya itu.
Konsultan Endokrin Metabolik dan Diabetes Prof. Sidartawan Soegondo dalam sebuah acara yang di gelar di Bintaro Tanggerang Selatan mengungkapkan bahwa obesitas tidak sekadar berkaitan dengan kelebihan berat badan, tetapi juga dapat meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2.
“Obesitas jangan dianggap hanya sebagai masalah berat badan atau bentuk tubuh. Kondisi ini dapat menjadi pemicu berbagai penyakit serius, salah satunya diabetes melitus tipe 2,” ujar Prof. Sidartawan
Ia menjelesakan bahwa Pada orang dengan obesitas terutama ketika terjadi penumpukan lemak di sekitar perut, jaringan tubuh dapat menjadi kurang responsif terhadap insulin atau resistensi insulin.
Karena hal tersebut pankreas akan bekerja lebih keras dengan memproduksi lebih banyak insulis untuk menjaga kadar gula darah tetap normal.
Menurut Prof Sidartawan jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu yang lama kemampuan pankreas untuk memenuhi kebutuhan insulin dapat menurun.
“Sementara disaat yang sama efektifitas insulin dalam mengendalikan gula darah juga berkuang sehingga kadar glukosa dapat terus meningkat dan berkembang menjadi diabetes melitus tipe 2,” ujar Prof Sidartawan
Prof Sidartawan juga menekankan pentingnya menderita obesitas untuk merubah pola hidup yang lebih sehat melalui pola makan dan aktifitas fisik.
Namun demikian, Prof Sidartawan tidak menampik penggunaan obat-obat sejauh hal tersebut memang diperlukan oleh penderita.
“Dalam kondisi tertentu terapi obat dapat dipertimbangkan oleh dokter terutama pada pasien obesitas yang telah memiliki penyakit penyerta seperti diabetes melitus tipe 2, hipertensi, atau gangguan kadar kolesterol,” ujarnya
Ia juga menekankan bahwa obat-obatan yang diberikan bukanlah pengganti pola hidup sehat, “Penggunaan obat harus berdasarkan indikasi medis dan berada di bawah pengawasan dokter dan menjadi bagian dari terapi yang komprehensif,” jelas Prof Sidartawan





