Kerap Tak Terdeteksi, Pengidap Kanker Payudara Meningkat Signifikan
JakartaHits.id – Berdasarkan data BPJS Kesehatan, kasus kanker payudara mengalami peningkatan yang signifikan selama periode 2021 hingga 2025. Jumlah kasus meningkat sekitar 860 ribu kasus.
Kanker Payudara hingga saat ini masih menjadi momok yang sangat menakutkan bagi kaum perempuan, selain belum adanya vaksin untuk penyakit ini, Kanker payudara juga sering kali tidak terdeteksi oleh pengidapnya.
Hal tersebut di ungkap Dokter subspesialis Bedah Onkologi dr. I Gusti Ayu Nari Laksmi Dewi, SpB, Subsp.Onk (K) dalam sebuah acara di Kaiser Cancer Center, BSD City Tanggerang beberapa waktu lalu.
dr. Gusti mengungkapkan bahwa masih banyak perempuan di Indonesia yang menganggap cancer payudara hanya akan di derita oleh perempuan yang memiliki faktor genetik sehingga menafikan pemeriksaan kesehatan payudaranya.
“Sebetulnya kanker payudara itu multifaktorial penyebabnya, jadi enggak bisa cuma karena riwayat keturunan aja, tapi juga oleh sebab-sebab lain, intinya semua perempuan memiliki resiko,” kata I Gusti Ayu
Lebih jauh dr. Gusti menjelaskan bahwa kanker payudara bukan saja dipicu oleh faktor genetik, tapi bisa juga disebabkan oleh perubahan hormonal dan gaya hidup tidak sehat terutama padaperempuan dibawah usia 35 tahun
“Di bawah usia 35 tahun, benjolan di payudara cukup sering ditemukan dan perlu pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan apakah termasuk tumor jinak atau ganas,” ucapnya
dr. Gusti juga menilai bahwa masih banyak pasien datang ke rumah sakit ketika kanker payudara sudah memasuki stadium lanjut.
Menurutnya hal ini disebabkan karena kanker payudara kerap tidak menimbulkan keluhan terutama pada stadium awal sehingga baru diketahui setelah benjolan membesar.
Ia juga mneyampaikan pentingnya edukasi mengenai kanker sehingga para perempuan dapat mendeteksi dengan cepat apakaada benjolan atau tidak
“Sebaiknya dilakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri) setiap bulan untuk mendapatkan benjolan-benjolan lebih awal apabila memang sudah ada, dilanjutkan pemeriksaan ke dokter untuk memastikan apakah itu tumor jinak ataupun tumor ganas,” ungkap dr. Gusti





