Usaha Kripik Ubi Kepo, Iseng-Iseng Menghasilkan Cuan?

JakartaHits.id – Ubi merupakan salah satu makanan yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Selain harganya yang terjangkau, ubi juga memberikan efek mengenyangkan setelah di konsumsi. Oleh karena itu, tidak heran jika ubi banyak dijadikah sebagai olehan makanan.

Olahan ubi yang sering kita temukan adalah kripik ubi. Rasanya, hampir setiap warung kelontong pasti menjual kripik ubi. Kripik ubi sudah eksis sejak lama. kripik ubi banyak dikonsumsi sebagai cemilan ataupun teman makan nasi sehingga disukai oleh semua orang baik anak kecil hingga orang dewasa.

Melihat tingginya peminat masyarakat akan kripik ubi ini membuat pasangan suami istri Ocit istrinya dari Desa Linggamekar, Cilimus, Kabupaten Kuningan tertarik untuk memulai usaha dengan berbahan dasar ubi yang tumbuh subur di desanya.

Baca Juga: Linggamekar, Desa Indah di Bawah Kaki Gunung Ciremai

Ocit mengatakan bahwa usaha kripik ubi ini awal mulanya didirikan berawal dari keisengannya bersama istri karena tertarik akan usaha olahan ubi.

“Ya berawal dari iseng-iseng, saya berdua sama istri ternyata di pasarannya sangat bagus” katanya.

Melihat kripik ubi yang bagus dipasaran, kripik ubi yang dirintis sejak lima tahun kebelakang ini oleh pak Ocit bersama istri pun berkembang pesat hingga berlanjut sampai sekarang ini. Mereka menamai kripik ubi produksi mereka dengan merek Kripik Ubi Kepo.

“Lima tahun kebelakang, semenjak nikah iseng-iseng bikin ini ternyata di pasaran bagus ya akhirnya berlanjut sampai sekarang gitu. Tadinya awalnya dari berdua sama istri, sekarang ya Alhamdulillah bisa mempekerjakan istilahnya saudara, tetangga gitu yang pada nganggur, diajak ke sini kerja” jelasnya.

Baca Juga: Pemprov Malut Libatkan UMKM Unjuk Produk Unggulan di Hari Nusantara 2023 Tidore

Dengan perkembangan usahanya yang bagus, selain mendapatkan keuntungan pribadi untuk keluarganya sendiri,  usaha kripik ubi yang Ocit rintis bersama istrinya pun membawa berkah bagi orang-orang disekelilingnya dengan membuka lapangan pekerjaa. Dari yang awalnya hanya berdua sekarang sudah dapat mempekerjakan orang-orang disekitarnya.

“Saat ini ada jumlah pekerjsa seluruhnya ada 25 orang, alhamdulillah sudah ada 25 orang,” ujarnya.

Meskipun usaha kripik ubinya berkembang sampai sempai kerang, tidak serta merta membuat usahanya selalu laris. Usaha yang Ia rintis sampai saat ini pun masih mengalami pasang surut. Hal ini karena produksi kripik ubi bergantung pada kondisi peminat di pasar.

“Kalau yang namanya usaha kan pasti ada naik turunnya, di saat kita lagi di atas ya di atas, kalau lagi di bawah ya di bawah. Tergantung di pasarnya begitu. Kalau untung ruginya ya namanya usaha lah, nggak bisa tentu gitu,“ jelasnya.

Dalam mempertahankan usaha kripik ubinya, strategi pemasaran yang dilakukan Ocit masih bersifat tradisional yaitu bekerja sama dengan sales produk makanan lainnya.

“Penjualannya saat ini saya kerjasama dengan sales, digabungin sama roti, trus kripik ibu, banyaklah macam-macam produk. Soalnya langsung ke pasar,” kata Ocit

Baca Juga: PLN Icon Plus dan MHCI Hadirkan Solusi Pembiayaan PV Rooftop

Walaupun masyarakat Desa Linggamekar sudah umum akan penggunaan internet dan sosial media. Sayangnya, Ocit belum memanfaatkan hal tersebut sebagai strategi pemasaran untuk produk kripik ubinya. Ocit mengaku masih membutuhkan modal untuk memperbaiki dari segi kemasan produknya agar layak dipasarkan melalui sosial media.

“Ya pengen sih. Cuman kan karena ya mungkin harus ada modal untuk pendukungnya tuh. Istilahnya kan kalau masuk itu kan kemasannya beda. Ini kan cuman, ya cuman kaya gini (kemasan plastik ) gitu kan istilahnya. Kalau mungkin ada pesanan ini kan kemasannya mungkin lebih bagus lagi”’

Ocit pun berharap agar usahanya terus lancar dan semakin bagus lagi kedepannya sekaligus berharap adanya dukungan dan perhatian lebih terhadap UMKM di desanya. (SRV)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button