Bahaya Fenomena Kolestrol Tinggi Pada Remaja, Gorengan dan Rokok Jadi Pemicunya
Dr. Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono mengingatkan pentingnya menjaga pola hidup bagi anak remaja hingga anak muda.
JakartaHits.id – Pakar kesehatan jantung, Dr. Nicolaus Novian Dwiya Wahjoepramono, menyebut fenomena kolesterol tinggi pada usia muda sebagai sinyal bahaya yang perlu direspons dengan serius sejak dini.
Menurutnya, gaya hidup anak muda yang kurang aktif bergerak dan kerap mengonsumsi makanan tinggi lemak menjadi pemicu utama lonjakan kolesterol pada usia produktif.
Kolesterol merupakan lemak yang diproduksi tubuh dan juga diperoleh dari makanan.
Meski dibutuhkan untuk membangun sel, kadar kolesterol yang berlebih dalam darah bisa menumpuk di pembuluh darah dan menyebabkan penyempitan atau penyumbatan.
Hal ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, bahkan pada usia muda.
“Tren peningkatan kadar kolesterol di usia muda adalah sinyal bahaya. Ini faktor risiko utama penyakit jantung dan stroke yang sebenarnya bisa dicegah,” ujar dr Nicolaus.
Dr. Nicolaus menjelaskan bahwa kolesterol tinggi dipengaruhi oleh dua jenis faktor, yaitu yang tidak dapat diubah dan faktor yang bisa dimodifikasi.
Ia menekankan pentingnya memulai pola hidup sehat sejak remaja dengan melakukan olahraga ringan, konsumsi makanan seimbang, serta membatasi asupan lemak jenuh dan makanan olahan.
Sayangnya, banyak anak muda belum menyadari bahwa gaya hidup mereka berperan besar dalam meningkatkan risiko kolesterol tinggi. Kebiasaan konsumsi makanan cepat saji, gorengan, hingga pola makan tidak teratur kerap ditemui dalam keseharian remaja dan mahasiswa.
“Tidak ada toleransi untuk rokok. Satu batang pun sudah terlalu banyak. Selain itu, kontrol berat badan dan batasi konsumsi lemak trans, terutama dari minyak goreng yang dipakai berulang, juga sangat penting,” kata dr. Nicolaus.
Dr. Nicolaus juga menekankan bahwa kesadaran bisa dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar.
“Kesadaran bisa dimulai dari diri sendiri dan lingkungan sekitar. Gaya hidup sehat itu investasi jangka panjang,” ujarnya.
(Asti Febriani)



