Dari Valuasi Tinggi ke Krisis Reputasi
Nani Adismie Esti (224220144), Universitas Paramadina

JakartaHits.id — Status unicorn pernah menempatkan eFishery sebagai salah satu simbol keberhasilan perusahaan rintisan Indonesia. Perusahaan teknologi akuakultur ini membawa cerita yang menarik: inovasi digital tidak hanya digunakan untuk mengejar valuasi, tetapi juga diklaim membantu pembudidaya ikan melalui teknologi pemberian pakan, akses pembiayaan, dan pemasaran hasil budidaya. Pada 2023, eFishery memperoleh pendanaan Seri D senilai 200 juta dollar AS dengan valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS. Pencapaian itu membuatnya dikenal sebagai salah satu unicorn di bidang akuakultur.
Namun, reputasi yang dibangun melalui narasi inovasi, kebermanfaatan sosial, dan pertumbuhan bisnis tersebut berbalik menjadi krisis kepercayaan ketika dugaan manipulasi laporan keuangan terungkap pada akhir 2024 dan awal 2025.
Laporan investigasi awal yang diberitakan sejumlah media menyebut adanya perbedaan besar antara kondisi keuangan yang disampaikan kepada investor dan kondisi internal perusahaan. Untuk periode Januari hingga September 2024, pendapatan yang diinformasikan kepada investor disebut mencapai 752 juta dollar AS dengan keuntungan 16 juta dollar AS. Investigasi memperkirakan pendapatan sebenarnya sekitar 157 juta dollar AS dan perusahaan justru mengalami kerugian sekitar 35,4 juta dollar AS. Penyelidikan itu bermula setelah seorang pelapor internal menyampaikan dugaan ketidaksesuaian pencatatan kepada anggota dewan perusahaan.
Krisis kemudian berkembang dari persoalan internal menjadi perkara hukum. Mantan CEO sekaligus pendiri eFishery, Gibran Huzaifah, ditahan Bareskrim Polri sejak 31 Juli 2025. Pada 29 April 2026, Pengadilan Negeri Bandung menjatuhkan vonis sembilan tahun penjara dan denda Rp1 miliar kepada Gibran dalam perkara manipulasi laporan keuangan dan pencucian uang. Putusan tersebut juga melibatkan dua mantan pejabat perusahaan lainnya.
Dalam Situational Crisis Communication Theory yang dikembangkan W. Timothy Coombs, strategi komunikasi organisasi perlu disesuaikan dengan besarnya tanggung jawab yang dilekatkan publik kepada organisasi. Krisis yang muncul akibat pelanggaran manajemen, kegagalan pengawasan, atau tindakan yang sebenarnya dapat dicegah ditempatkan dalam kelompok preventable crisis. Krisis jenis ini membawa ancaman reputasi paling besar karena publik menilai organisasi memiliki tanggung jawab yang kuat.
Krisis eFishery dapat dibaca dalam kategori tersebut. Meskipun proses hukum berfokus pada mantan pimpinan dan pejabat tertentu, publik tetap berhak mempertanyakan sistem yang memungkinkan ketidaksesuaian laporan berlangsung. Dewan perusahaan, investor, auditor, serta mekanisme pengawasan internal tidak dapat begitu saja dikeluarkan dari pembicaraan mengenai tata kelola.
Menempatkan seluruh kesalahan hanya pada beberapa individu berisiko menghasilkan narasi “oknum” yang terlalu sederhana. Dalam krisis organisasi, publik tidak hanya ingin mengetahui siapa pelakunya. Publik juga ingin mengetahui bagaimana sistem gagal mendeteksi masalah, siapa yang seharusnya melakukan pengawasan, dan perubahan apa yang diterapkan untuk mencegah pengulangan.
Pada Februari 2025, dewan eFishery menunjuk FTI Consulting sebagai manajemen sementara. Pihak independen tersebut diberi tugas memperoleh gambaran yang lebih jelas mengenai kondisi keuangan dan operasional perusahaan sekaligus melakukan peninjauan bisnis secara objektif. Langkah tersebut merupakan respons penting karena menunjukkan adanya upaya memisahkan proses pemeriksaan dari manajemen lama.
Masalahnya, tindakan korektif pada tingkat manajemen belum otomatis menjawab kebutuhan informasi semua pihak. Selama krisis, ruang publik lebih banyak dipenuhi kabar mengenai investigasi, pergantian manajemen, dugaan manipulasi, pemutusan hubungan kerja, penahanan, dan proses persidangan. Komunikasi kepada pekerja, pembudidaya, pemasok, kreditur, dan mitra usaha berpotensi tenggelam di tengah dominasi pembicaraan hukum dan keuangan.
Padahal, setiap kelompok memiliki pertanyaan berbeda. Investor ingin mengetahui nilai kerugian dan akurasi laporan. Karyawan membutuhkan kepastian mengenai pekerjaan dan hak mereka. Pembudidaya perlu mengetahui keberlanjutan teknologi, pembiayaan, pasokan pakan, dan pemasaran. Kreditur membutuhkan kepastian mengenai kewajiban perusahaan. Publik ingin mengetahui apakah klaim kebermanfaatan sosial yang pernah disampaikan masih dapat dipercaya.
Komunikasi krisis tidak cukup apabila hanya ditujukan kepada pihak yang menanamkan modal. Berdasarkan pendekatan pemangku kepentingan, organisasi memiliki tanggung jawab terhadap seluruh kelompok yang memengaruhi atau dipengaruhi oleh aktivitasnya. Karena itu, pemulihan eFishery seharusnya tidak hanya berbicara tentang menyelamatkan perusahaan, tetapi juga memulihkan pihak-pihak yang menanggung akibat dari kegagalan tata kelolanya.
Dalam krisis dengan tingkat tanggung jawab tinggi, SCCT menyarankan strategi rebuild atau pembangunan kembali reputasi. Strategi ini mencakup pengakuan tanggung jawab, permintaan maaf, bantuan kepada pihak terdampak, kompensasi jika diperlukan, dan tindakan korektif yang dapat dinilai public.
Narasi mengenai pendiri inspiratif, disrupsi teknologi, serta kebermanfaatan sosial memang dapat menarik investor dan perhatian media. Akan tetapi, reputasi yang sehat tidak dapat hanya dibangun dari cerita yang menarik. Reputasi memerlukan data yang dapat diperiksa, tata kelola yang bekerja, keberanian internal untuk menyampaikan masalah, serta pimpinan yang bersedia diawasi.
Investor juga tidak dapat hanya tampil sebagai pihak yang tertipu. Pendanaan dalam jumlah besar seharusnya diikuti proses verifikasi yang sebanding. Auditor, komisaris, dan pemegang saham memiliki peran untuk memastikan bahwa cerita pertumbuhan perusahaan memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dalam kasus eFishery, komunikasi krisis terbaik bukanlah kampanye untuk menghidupkan kembali citra unicorn. Prioritasnya adalah mengungkap fakta, memulihkan pihak terdampak, dan memperbaiki sistem yang gagal. Popularitas mungkin dapat dibangun melalui pemberitaan, tetapi kepercayaan hanya dapat diperoleh melalui akuntabilitas.




