Sampah Plastik Indonesia Masih Mengkhawatirkan

Saat ini, pengelolaan sampah di Indonesia masih belum berjalan dengan optimal. Hal ini diakui oleh Novrizal Tahar, Direktur Penanganan Sampah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian (KLHK) dalam key note speech yang disampaikan pada hari kedua The SDGs National Seminar Series 2023 (3/10) di Jakarta Selatan.

“Banyak ditemukan limbah plastik di lautan Indonesia. Ini karena limbah hasil konsumsi kita belum dapat terkelola dengan baik, sehingga mencemari lingkungan. Roadmap kita dalam jangka waktu dekat di tahun 2025, bisa mengurangi temuan limbah (terutama plastik) di lautan sebesar 70%. Saat ini, kita baru berhasil mengurangi buangan limbah ke laut sebesar 35,36%,” ungkap Novrizal.

Selain itu, dalam roadmap pengelolaan sampah pada tahun 2025 juga ditargetkan Indonesia tidak lagi mengandalkan landfill atau Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sebagai akhir dari proses pembuangan limbah. Perlu adanya pengelolaan sampah terpadu yang bisa mengurangi jumlah limbah yang dibuang ke TPA.

Saat ini, banyak masalah yang dialami oleh TPA di Indonesia yang sudah kelebihan kapasitas. Salah satunya terbakarnya TPA di sejumlah wilayah akibat paduan suhu bumi yang meningkat disertai banyak sampah organik yang menghasilkan gas metana sehingga memicu kebakaran.

“Di TPA saat ini, sampah yang masuk itu belum semuanya terpisah. Semua campur. Dari yang plastik, sampah organik yang menghasilkan gas metana. Belum maksimal pemilihan sampah yang harusnya bisa dilakukan dari rumah,” tambahnya.

Edukasi lingkungan penting untuk dilakukan dalam memberikan pemahaman ke masyarakat agar memahami pentingnya melakukan pengelolaan sampah mandiri yang dapat dimulai dari rumah.

Edukasi lingkungan yang juga perlu dilakukan yaitu mengenai manfaat daur ulang sampah, peluang bisnis dalam pengelolaa sampah, serta bijak dalam memilih produsen barang konsumsi yang sudah berkomitmen untuk melakukan daur ulang kemasan produknya sehingga bisa mengurangi limbah plastik di lingkungan.

“Masyarakat juga harus bijak dan cerdas dalam memilih produk yang dihasilkan oleh produsen barang konsumsi, mana yang produsennya sudah berkomitmen dalam pengelolaan limbah-limbah produknya, mana yang belum,” tegas Novrizal.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button