Misteri Hilangnya Pesawat RI-002 pada 1948 Terungkap, Kisah Pengorbanan Pilot Indonesia dan Amerika Kembali Disorot Jelang Hari Pahlawan
Memoar Petit Muharto mengungkap perjuangan penerbangan RI-002 serta persahabatannya dengan pilot Amerika Serikat, Bobby Freeberg.

JakartaHits.id – Kisah hilangnya pesawat RI-002 yang membawa pilot asal Amerika Serikat, Bobby Earl Freeberg, bersama sejumlah personel Indonesia kembali menjadi sorotan menjelang peringatan Hari Pahlawan 10 November. Peristiwa yang terjadi pada 1 Oktober 1948 di Sumatra tersebut diangkat dalam diskusi sejarah di @america, Jakarta, Kamis (5/11/2026).
Diskusi bertajuk “Lost Flight RI-002: An American, an Indonesian, and a Flight for Freedom” itu mengangkat kisah perjuangan penerbang Indonesia Petit Muharto Kartodirdjo dan Freeberg selama Revolusi Indonesia 1945-1949. Cerita tersebut bersumber dari memoar Petit berjudul “RI-002: Flying for Our Freedom”.
Dalam masa perjuangan kemerdekaan, pesawat RI-002 memiliki peran penting untuk menghubungkan wilayah Republik dengan dunia luar. Pesawat tersebut menjalankan berbagai misi berisiko tinggi, mulai dari mengangkut personel hingga perbekalan di tengah tekanan militer Belanda.
Freeberg yang merupakan mantan pilot Angkatan Laut Amerika Serikat asal Kansas juga tercatat menerbangkan RI-002 dalam operasi penerjunan pasukan pertama Angkatan Udara Republik Indonesia di Kalimantan pada 17 Oktober 1947.
Namun, perjalanan pesawat tersebut menyisakan misteri setelah dinyatakan hilang dalam penerbangan di Sumatra pada 1 Oktober 1948. Petit tidak berada dalam penerbangan terakhir tersebut. Ia kemudian menghabiskan puluhan tahun untuk mencari tahu nasib sahabatnya dan mengungkap penyebab hilangnya pesawat, meskipun puing-puingnya baru ditemukan beberapa dekade kemudian.
Kisah di Balik Perjuangan Kemerdekaan
Diskusi tersebut menghadirkan sejumlah narasumber, yakni Lala Karmela, cucu Petit Muharto Kartodirdjo; Marsekal TNI (Purn.) Chappy Hakim, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Udara; serta sejarawan dan pendiri Komunitas Historia Indonesia, Asep Kambali.
Lala mengungkapkan, membaca memoar sang kakek membuatnya memahami sejarah Indonesia dari sudut pandang yang lebih personal. Menurutnya, kisah pengalaman langsung para pelaku sejarah dapat membantu generasi muda memahami makna di balik peristiwa masa lalu.
“Sejarah bukan hanya soal mengetahui apa yang terjadi, tetapi juga memahami mengapa hal itu terjadi. Dan terkadang, untuk memahaminya, kita membutuhkan sebuah cerita,” ujar Lala dalam pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Ia juga menilai keberanian generasi muda pada masa perjuangan masih memiliki keterkaitan dengan semangat anak muda saat ini.
“Sekarang saya melihat anak-anak muda yang juga berusia dua puluhan, dan semangat mereka untuk Indonesia masih sangat kuat. Jadi, ada sesuatu yang tidak berubah di negara kita,” katanya.
Sementara itu, Chappy Hakim menyoroti hubungan persahabatan Petit dan Freeberg yang melampaui perbedaan kebangsaan. Berdasarkan pengalamannya menerbangkan pesawat C-47 Dakota, ia juga menjelaskan bahwa penerbangan pada masa tersebut menghadapi berbagai tantangan dan risiko.
Menurut Chappy, nilai penting memoar tersebut tidak hanya terletak pada sejarah penerbangan, tetapi juga hubungan antarmanusia yang terbangun selama perjuangan.
“Hubungan manusia dengan manusia yang tidak mengenal ras, tidak mengenal bangsa, tidak mengenal apa pun,” ungkapnya.
Ia turut mengingatkan pentingnya mendokumentasikan sejarah dan menjaga arsip agar kontribusi para pelaku perjuangan tidak terlupakan.
Asep Kambali juga mengajak masyarakat memberikan perhatian kepada tokoh-tokoh yang memiliki jasa besar, meskipun namanya belum banyak dikenal.
“Kemerdekaan itu tidak turun dari langit, tapi melalui Freeberg dan Petit kita tahu bahwa ternyata kemerdekaan itu diperjuangkan di atas langit,” ujar Asep.
Ia menambahkan, kisah kedua penerbang tersebut perlu menjadi bagian dari ingatan kolektif bangsa.
“Dengan hadirnya buku ini, saya kira ini amat penting untuk menegaskan bahwa ada orang-orang kecil yang punya jasa besar bagi bangsa ini dan harus jadi memori kolektif bangsa,” lanjutnya.
Memoar Petit Terbit Setelah Penantian 26 Tahun
Penulis dan pegiat pelestarian warisan budaya, Tamalia Alisjahbana, turut membahas hubungan Petit dan Freeberg sebagai gambaran persahabatan antara dua bangsa. Ia berharap kontribusi keduanya mendapatkan pengakuan resmi dari pemerintah Indonesia.
“Ini adalah kisah persahabatan antara dua bangsa dan dua masyarakat. Secara pribadi, saya berharap pemerintah Indonesia memberikan penghargaan berupa medali kepada Petit Muharto dan Bobby Freeberg,” ujarnya dalam pernyataan yang diterjemahkan dari bahasa Inggris.
Di balik terbitnya memoar tersebut, terdapat perjuangan panjang keluarga Petit. Putranya, Eko, membutuhkan waktu 26 tahun untuk mewujudkan penerbitan naskah peninggalan sang ayah. Upaya itu berawal dari janji yang dibuat setelah Petit meninggal dunia pada 2000. Buku tersebut akhirnya terbit pada 2026 setelah melalui berbagai proses penelitian dan penerbitan.
Penerbit Kabar Media Books menyebut penerbitan memoar tersebut menjadi salah satu upaya melestarikan kisah perjuangan yang belum banyak diketahui masyarakat.
“Hari Pahlawan merupakan kesempatan untuk mengenang bukan hanya tokoh-tokoh besar dalam sejarah kita, tetapi juga banyak individu yang kisahnya belum banyak dikenal. Melalui penerbitan memoar Petit, kami berharap dapat melestarikan salah satu kisah tersebut dan mengajak generasi baru mengenal orang-orang luar biasa di balik kemerdekaan Indonesia,” ujar Kabar Media Books.
Melalui buku “RI-002: Flying for Our Freedom”, masyarakat diajak mengenal kembali peran individu, persahabatan lintas negara, dan pengorbanan yang turut mendukung perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kisah tersebut sekaligus mengingatkan bahwa masih banyak sosok berjasa dalam sejarah bangsa yang belum mendapat perhatian luas. [Zayanul]





