Menjaga Cita Rasa Khas Betawi dari Pinang Ranti

JakartaHits.id – Aroma gurih dan harum wijen terasa dari sebuah rumah di Kampung Sebelah, Gang Masjid Agung At-Tin RT 013 RW 02, Kelurahan Pinang Ranti, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur. Di tempat sederhana itu, Wahyubi dengan telaten membuat kue semprong kipas, salah satu penganan atau makanan ringan khas Betawi yang hingga kini masih dipertahankan.
Sejak 2006, atau sekitar 20 tahun lalu, Wahyubi menekuni usaha pembuatan semprong kipas. Usaha tersebut berawal dari keinginan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya sekaligus menjadi bagian dari geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di lingkungan tempat tinggalnya.
Dengan peralatan sederhana dan dikerjakan secara manual, adonan semprong kipas diolah menjadi kue tipis yang renyah. Bahan-bahan yang digunakan antara lain kelapa, tepung tapioka, tepung terigu, mentega, telur, dan wijen.
Proses pembuatannya membutuhkan ketelatenan. Adonan terlebih dahulu dicetak dan dipanggang, kemudian dibentuk menyerupai kipas sebelum mengeras.
Dari tangan Wahyubi, bahan-bahan sederhana tersebut berubah menjadi penganan dengan rasa gurih dan tekstur renyah yang khas. Bagi masyarakat Betawi, semprong bukan sekadar kudapan. Kue ini kerap hadir sebagai sajian untuk tamu, terutama saat Hari Raya Idulfitri.
Kenikmatannya tidak hanya berhenti pada momen perayaan. Semprong kipas juga cocok dinikmati kapan saja, termasuk sebagai teman minum kopi saat bersantai.
Lurah Pinang Ranti, Nani Yuslina, mengapresiasi keberadaan UMKM yang dijalankan Wahyubi. Menurutnya, usaha tersebut tidak hanya menghasilkan produk makanan yang enak, tetapi juga turut menjaga keberadaan kuliner khas Betawi di tengah perkembangan zaman.
“Rasanya enak, gurih, renyah, teman kopi di saat santai dan bagian dari pelestarian kuliner khas Betawi,” kata Nani kepada Sudin Kominfotik Jakarta Timur di lokasi, Selasa (22/9/2026).
Selama menjalankan usahanya, Wahyubi tetap mempertahankan proses pembuatan secara manual. Dalam sehari produksi, ia mampu menghasilkan hingga delapan kaleng semprong berukuran 20 liter, tergantung permintaan.
Hasil produksinya kemudian dipasarkan secara sederhana. Wahyubi menjual semprong kipas dari rumah ke rumah kepada warga serta menitipkannya di sejumlah warung di sekitar lingkungan tempat tinggalnya.
Dua dekade menjalankan usaha membuat Wahyubi tidak sekadar mempertahankan mata pencaharian keluarga. Ia juga secara tidak langsung menjaga sebuah cita rasa lama agar tetap dikenal dan dinikmati generasi berikutnya.
Dari rumah sederhana di Pinang Ranti, semprong kipas terus dibuat dengan cara yang nyaris sama seperti dahulu. Setiap lembar adonan yang dipanggang dan dibentuk menjadi kipas menjadi cerita tentang ketekunan seorang pelaku UMKM sekaligus upaya kecil untuk mempertahankan warisan kuliner Betawi agar tetap hidup di tengah zaman yang terus berubah.





