Sejarah dan Dedikasi Wisata Alam Pangrango: Jejak Pensiunan Guru Mendirikan Wisata Alam Pangrango
JakartaHits.id — Di tengah masifnya alih fungsi lahan dan komersialisasi kawasan wisata kekinian di wilayah Bogor, keberadaan ruang terbuka hijau yang tetap mempertahankan keaslian ekosistem menjadi hal yang kian berharga. Destinasi rekreasi berbasis ekowisata ini tidak hanya menawarkan ketenangan bentang alam yang asri, tetapi juga menyimpan rekam jejak perjuangan panjang dari sosok pendirinya dalam menjaga keaslian lingkungan.
Seorang pensiunan guru yang mendedikasikan masa purnabaktinya untuk merintis dan mengelola kawasan tersebut. Sejarah perintisan kawasan ini bermula sejak tahun 1997, ketika ia pertama kali menemukan potensi besar dari bentang alam murni di kaki Gunung Pangrango yang saat itu belum terjamah oleh pembangunan fisik modern maupun aktivitas komersial masif.
Keindahan dan kejernihan ekosistem lokal yang masih murni pada era akhir 1990-an tersebut menjadi dorongan utama bagi Bakri untuk mengalihfungsikan minat dan pengabdiannya ke bidang konservasi. Ia mengenang kembali masa awal perjumpaannya dengan lokasi tersebut.
Baca Juga: Sejarah dan Dedikasi Wisata Alam Pangrango: Jejak Pensiunan Guru Mendirikan Wisata Alam Pangrango
“Saya mulai kenal tempat ini itu dari 97, udah lama banget tuh… Tempatnya soalnya memang daerahnya masih alam, masih asri banget, belum banyak tersentuh macam-macam.” Bakri, Pendiri & Pengelola Wisata Alam Pangrango
Pengembangkan kawasan ini diwujudkan melalui penerapan prinsip ekowisata berkelanjutan secara ketat. Berbeda dengan tren pembangunan destinasi wisata modern yang cenderung didominasi struktur beton dan wahana buatan, Wisata Alam Pangrango sengaja dipertahankan dalam kondisi mendekati aslinya. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa interaksi manusia dengan alam dapat berjalan secara selaras tanpa merusak habitat flora dan fauna lokal serta menjaga daya dukung lingkungan sekitar.
Kini dedikasi panjang seorang pensiunan guru tersebut telah membuahkan hasil nyata bagi masyarakat luas, hadirnya ruang rekreasi alam yang terjangkau, edukatif, dan ramah lingkungan. Wisata Alam Pangrango menjadi bukti konkret bahwa pengembangan pariwisata daerah tidak selalu bergantung pada modernisasi skala besar, melainkan pada komitmen kuat untuk merawat, menghormati, dan mempertahankan warisan keaslian alam demi keseimbangan ekosistem jangka panjang.
Baca Juga : Resmi Beroperasi! LRT Kelapa Gading-Manggarai Cuma Rp8 Selama 8 Hari




