BINUS @Bekasi Hadirkan Global Trade Management, Cetak Talenta Baru Perdagangan Internasional Era Digital
Program studi baru ini menggabungkan bisnis global, kecerdasan buatan, dan logistik digital untuk menjawab kebutuhan industri masa depan.

JakartaHits.id, Bekasi – BINUS University meluncurkan program studi baru Global Trade Management (GTM) di bawah naungan BINUS Business School Undergraduate Program. Program tersebut hadir bertepatan dengan perayaan 10 tahun BINUS @Bekasi dan menjadi program studi ke-10 yang dikembangkan di kampus tersebut.
Peluncuran GTM berlangsung di Multimedia Gallery, BINUS @Bekasi, Rabu (16/9). Program ini hadir untuk menjawab perkembangan perdagangan internasional yang semakin dinamis, mulai dari perubahan rantai pasok global, hilirisasi industri, pertumbuhan e-commerce, hingga kebutuhan tenaga profesional yang mampu mengelola aktivitas perdagangan lintas negara.
Direktur Kampus BINUS @Bekasi, Prof. Gatot Soepriyanto, S.E., Ak., M.Buss., Ph.D., mengatakan kehadiran Global Trade Management memiliki keterkaitan kuat dengan perkembangan industri di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Menurut Gatot, Bekasi memiliki posisi strategis karena berada di tengah kawasan industri besar dan dekat dengan jalur perdagangan internasional.
“Ini acara istimewa karena di ulang tahun ke-10 BINUS @Bekasi, ini menjadi program ke-10 di BINUS @Bekasi. Bukan program sembarang, program yang keren banget: Global Trade Management,” ujar Prof Gatot di Bekasi (16/9).
Ia menjelaskan bahwa BINUS melihat kebutuhan industri terhadap tenaga ahli yang memahami perdagangan internasional semakin meningkat.
“Program ini menjadi sebuah jawaban dari tantangan yang selama ini ada kalau kita berbicara mengenai perdagangan internasional. Harapannya ini bisa mendidik lebih banyak mahasiswa untuk menjadi tenaga ahli di bidang perdagangan internasional,” katanya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor Indonesia periode Januari-Juli 2026 mencapai US$167,03 miliar, meningkat 4,43 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara nilai impor meningkat 19,94 persen menjadi US$163,33 miliar.
Perkembangan tersebut menunjukkan kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dalam ekspor-impor, kepabeanan, logistik, dan rantai pasok global.
Kurikulum GTM Gabungkan Bisnis Global, AI, dan Logistik Digital
Dekan BINUS Business School Undergraduate Program, Prof. Dr. Sevenpri Candra, menjelaskan bahwa GTM hadir untuk menyiapkan talenta yang sesuai dengan kebutuhan industri masa kini dan masa depan.
Ia mengatakan perkembangan perdagangan digital, kebijakan hilirisasi industri, serta keterbukaan pasar global menciptakan kebutuhan baru terhadap tenaga profesional.
“Global Trade Management ini harapannya adalah mengisi bakat-bakat yang dibutuhkan untuk saat ini dan masa depan,” ujar Sevenpri.
Program GTM mengintegrasikan berbagai bidang pembelajaran, seperti global business, kebijakan perdagangan, supply chain, data analytics, artificial intelligence (AI), kepabeanan, dan pengadaan global.
Selain pembelajaran teori, mahasiswa juga mengikuti metode problem-based learning dengan menghadirkan praktisi industri dan studi kasus nyata.
“Pembelajaran Global Trade Management ini tidak hanya mendekati pembelajaran di kelas, tetapi juga mendorong pembelajaran berbasis masalah dengan menghadirkan praktisi dan kasus nyata di lapangan. Sehingga lulusannya akan siap bekerja dan berkarier di dunia perdagangan global,” kata Sevenpri.
GTM Tekankan Strategi Operasional Perdagangan
Prof. Sevenpri menjelaskan Global Trade Management memiliki perbedaan dengan program bisnis internasional pada umumnya. GTM tidak hanya membahas aktivitas perdagangan, tetapi juga bagaimana mahasiswa memahami pengelolaan perdagangan secara operasional.
“Global Trade Management melihat dua hal, yaitu berdagang dan pengelolaan. Jadi bukan hanya berdagang, tetapi bagaimana mengelola dengan kemampuan strategi operasional,” jelasnya.
Menurut dia, lokasi BINUS @Bekasi menjadi salah satu keunggulan program tersebut. Mahasiswa dapat memanfaatkan kedekatan kampus dengan kawasan industri MM2100, Jababeka, Karawang, serta Pelabuhan Tanjung Priok sebagai bagian dari proses pembelajaran.
“Kita melihat BINUS @Bekasi punya ekosistemnya. Kita tidak jauh dari pelabuhan, ada Tanjung Priok. Kita juga dekat dengan kawasan industri MM2100, Jababeka, dan Karawang,” ujarnya.
Sevenpri menambahkan, mahasiswa GTM juga akan mendapatkan penguatan kemampuan digital agar mampu menghadapi perubahan perdagangan global.
“Kita ingin lulusan memiliki keterampilan keras dari kompetensi Global Trade Management, tetapi juga memiliki kemahiran AI digital dan pola pikir global,” katanya.
Lulusan GTM Dipersiapkan Menjadi Eksportir hingga Analis Perdagangan
BINUS menargetkan lulusan Global Trade Management dapat berkarier di berbagai bidang, mulai dari sektor industri, pemerintahan, hingga kewirausahaan.
Prof. Gatot menyebut lulusan GTM memiliki peluang untuk menjadi pelaku usaha ekspor, negosiator perdagangan, maupun analis perdagangan.
“Yang pertama tentunya menjadi wirausahawan eksportir. Yang kedua, kalau dalam bidang pemerintah ada negosiator perdagangan. Kemudian dalam konteks yang lain juga bisa menjadi analis perdagangan,” ujar Gatot.
Pada tahap awal, BINUS menargetkan satu kelas perintis dengan jumlah mahasiswa sekitar 40 hingga 60 orang. Jumlah tersebut dapat bertambah mengikuti minat calon mahasiswa terhadap program tersebut.
Kolaborasi Akademisi, Pemerintah, dan Industri
Peluncuran Global Trade Management turut menghadirkan talkshow bertajuk “The World in Motion: How Global Trade Connects Business, People, and Opportunities”.
Kegiatan tersebut menghadirkan berbagai perspektif dari pemerintah, akademisi internasional, industri, dan alumni BINUS Business School.
Pembicara yang hadir antara lain Dr. Reza Pahlevi Chairul, Direktur Pengamanan Perdagangan, Ditjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan RI; Hilmi Kartasasmita, B.Sc. (Hons), M.A., Deputy Head of The Global Engagement Office (GEO), Kamar Dagang dan Industri Indonesia; Dr. Bilal Khalid, Assistant Dean for International Education Standards Accreditation, King Mongkut’s Institute of Technology Ladkrabang (KMITL), Thailand; serta Gyandev Timothy Pandori, S.E., Founder PT Ayo Makan Sayur dan Business Development PT Sumatran Organic Spice.
Gyandev yang merupakan alumni BINUS Business School membagikan pengalaman mengenai peluang dan tantangan dalam membawa produk Indonesia, khususnya rempah Nusantara, ke pasar global.
Melalui Global Trade Management, BINUS berharap dapat mencetak lulusan yang mampu memahami dinamika perdagangan internasional serta berkontribusi dalam meningkatkan daya saing bisnis Indonesia.
Pendaftaran Program Global Trade Management BINUS @Bekasi kini telah dibuka dengan berbagai pilihan skema beasiswa. Program ini berada di bawah BINUS Business School yang telah memperoleh akreditasi internasional AACSB (Association to Advance Collegiate Schools of Business).





