Seperti Apa Kuliah di FIKOM UIC? Ini Cerita Mahasiswanya

Pengalaman Seorang Mahasiswa ketika menempuh pendidikan di Universitas Ibnu Chaldun Jakarta

JakartaHits.id – Di balik dinamika perkuliahan yang padat, mahasiswa FIKOM Universitas Ibnu Chaldun (UIC) justru menemukan proses pembentukan diri yang mendalam. Salah satunya melalui pengalaman belajar yang tak hanya mengasah kemampuan akademik, tetapi juga karakter dan empati.

Bagi salah satu mahasiswa, mata kuliah Metode Penelitian Komunikasi menjadi tantangan tersendiri. “Cukup menantang, tapi saya belajar lebih dalam lewat diskusi kelompok, konsultasi dosen, dan latihan analisis data,” ujarnya. Dari situ, ia menyadari pentingnya kolaborasi dan ketekunan dalam memahami konsep-konsep abstrak.

Sistem belajar di FIKOM UIC pun dinilai sangat mendorong mahasiswa untuk berpikir kritis dan kreatif. Lewat diskusi kasus nyata, tugas proyek, hingga debat kelas, para mahasiswa dilatih untuk menganalisis isu-isu komunikasi secara mendalam dan menemukan solusi inovatif.

Riset dan analisis menjadi pilar penting dalam proses belajar. “Karena riset adalah dasar pemahaman isu komunikasi,” katanya. Ia mengasah kemampuan tersebut melalui tugas riset dan pembelajaran berbasis proyek.

Pengalaman langsung juga menjadi bagian dari proses belajar. Salah satunya saat presentasi kelompok, di mana ia menerapkan teori public speaking Aristoteles – etos, patos, dan logos – untuk menyusun materi. “Hasilnya, audiens lebih tertarik dan presentasi kami mendapat nilai tinggi.”

Tak hanya soal teori, kuliah di FIKOM UIC juga mengajarkan pentingnya empati dalam komunikasi. Diskusi kelas dan kerja kelompok melatih mahasiswa untuk mendengarkan dan memahami sudut pandang orang lain serta berkomunikasi secara lebih peka.

Konflik pun tak jarang terjadi dalam kerja kelompok, misalnya soal pembagian tugas. Namun, mahasiswa ini memilih untuk berdialog terbuka dan mencari solusi yang adil untuk semua.

Dalam menghadapi tekanan tugas dan tenggat waktu, ia menjaga motivasi dan emosi dengan mengatur waktu, cukup istirahat, serta berbagi cerita dengan teman. “Dukungan sosial itu penting banget.”

Pengalaman kuliah juga membantunya mengenali dan mengelola emosi sendiri maupun orang lain. Ia belajar refleksi diri dan memahami dinamika emosional dalam kerja tim dan presentasi. Dari situ, nilai kejujuran dan tanggung jawab menjadi prinsip hidup yang semakin ia yakini.

“Belajar di FIKOM bukan cuma soal ilmu, tapi juga membentuk karakter dan arah hidup saya,” tuturnya. Menurutnya, perkuliahan di FIKOM UIC membentuk dirinya tidak hanya sebagai calon profesional, tetapi juga sebagai manusia yang lebih sadar diri, peka secara sosial, dan berpikir etis.

Baginya, komunikasi adalah alat penting untuk menyebarkan nilai-nilai kebaikan dan menciptakan perubahan sosial. “Komunikasi yang jujur dan empatik bisa menginspirasi, mengedukasi, dan menyatukan,” pungkasnya.

(***RP***/Muhammad Sulton As Sakandayas)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button