Sekolah Rakyat Gelar Simulasi 2 Hari dengan Tes DNA & AI
Inovasi Pendidikan Masa Depan, Pemetaan Potensi Siswa dengan Teknologi Canggih

JakartaHits.id – Pada tanggal 9-10 Juli 2025, Sekolah Rakyat menggelar simulasi selama dua hari di dua lokasi berbeda.
Acara ini diikuti oleh siswa dari berbagai daerah yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap inovasi terbaru dalam dunia pendidikan.
Dalam simulasi tersebut, peserta menjalani tes DNA yang dirancang untuk mengidentifikasi potensi genetik mereka.
Teknologi artificial intelligence (AI) digunakan untuk menganalisis data hasil tes DNA dan mengembangkan profil potensi siswa secara lebih mendalam.
Siswa Sekolah Rakyat menjawab 99 pertanyaan diagnostik dalam tes DNA, hanya dalam 10 menit AI menganalisis 99 jawaban siswa.
Menentukan kecenderungan bakat mereka di bidang STEM (Science, Teknologi, Engineering, dan Matematika), bahasa, seni, dan vokasi.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kekuatan, minat, dan bakat masing-masing siswa.
Dalam pendekatan ini, proses pembelajaran dapat disesuaikan secara personal sesuai dengan kebutuhan setiap peserta.
Sistem AI ini mempu memproses data 300 ribu hingga 3 juta siswa hanya dalam hitungan detik, memberikan pemetaan presisi, penjurusan, hingga penempatan kerja.
Merasa tertantang dan penasaran dengan teknologi yang mereka gunakan, karena mereka merasa mendapatkan pengalaman yang berbeda dari metode pendidikan konvensional.
Mereka yakin bahwa penggunaan tes DNA dan AI dapat membantu para pendidik dalam merancang program belajar yang lebih efektif dan efisien.
Metode ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi siswa dalam belajar dan menumbuhkan rasa percaya diri mereka terhadap potensi yang mereka miliki.
Selama kegiatan berlangsung, para peserta juga mendapatkan kesempatan berdiskusi dan bertukar pengalaman tentang manfaat teknologi dalam proses belajar-mengajar.
Mereka menyadari bahwa inovasi ini tidak hanya akan memudahkan proses identifikasi potensi, tetapi juga membuka peluang untuk pengembangan pendidikan yang lebih inklusif.
Dengan demikian, kegiatan simulasi ini menjadi langkah awal yang penting dalam mewujudkan sistem pendidikan yang lebih adaptif dan berbasis teknologi di Indonesia. (Dahlia)




