“Marriage is Scary”: Ketika Gen Z Mulai Takut Menikah
Banyak dari mereka yang memilih untuk menunda atau bahkan menghindari pernikahan, dengan alasan ingin fokus pada karier, pendidikan, atau pencarian jati diri
JakartaHits.id – Di era digital saat ini, media sosial menjadi cermin dari keresahan dan aspirasi generasi muda. Salah satu tren yang mencuat adalah “Marriage is Scary”, di mana banyak pengguna, terutama dari kalangan Gen Z, mengungkapkan ketakutan mereka terhadap institusi pernikahan.
Melalui platform seperti TikTok dan Instagram, mereka membagikan video dan cerita yang menyoroti kekhawatiran akan kehilangan kebebasan pribadi, konflik rumah tangga, hingga tekanan emosional dalam pernikahan. Ungkapan seperti “Marriage is scary bayangin suami lo gak pernah bela lo di depan keluarga” menjadi representasi dari ketakutan tersebut.
Fenomena ini mencerminkan perubahan pandangan terhadap pernikahan di kalangan generasi muda. Banyak dari mereka yang memilih untuk menunda atau bahkan menghindari pernikahan, dengan alasan ingin fokus pada karier, pendidikan, atau pencarian jati diri.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), angka pernikahan di Indonesia mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2023, tercatat 1.577.255 pernikahan, menurun sekitar 128.000 dibandingkan tahun sebelumnya.
Tren “Marriage is Scary” juga membuka diskusi tentang pentingnya kesetaraan dalam hubungan. Banyak perempuan yang menginginkan pasangan yang setara dalam hal tanggung jawab rumah tangga dan pengasuhan anak, bukan hanya sebagai pencari nafkah.
Namun, tidak sedikit yang melihat tren ini sebagai peluang untuk introspeksi dan persiapan yang lebih matang sebelum memasuki pernikahan. Dengan memahami tantangan dan harapan dalam pernikahan, generasi muda dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Tren “Marriage is Scary” menunjukkan bahwa pernikahan bukan lagi dianggap sebagai tujuan hidup yang mutlak, melainkan pilihan yang memerlukan pertimbangan matang. Diskusi terbuka dan edukasi mengenai hubungan yang sehat menjadi kunci dalam menghadapi perubahan paradigma ini. (Muhammad Sulton As Sakandayas)





