Ghina Raihanah Tadjoedin Luncurkan Becoming Without Arrival,

JakartaHits.id — Penulis Ghina Raihanah Tadjoedin akan meluncurkan buku debutnya, Becoming Without Arrival, melalui “Ghinarai Tadjoedin’s Immersive Literary Experience” di Museum MACAN, Jakarta. Acara ini menjadi perayaan atas hadirnya karya debut tersebut sekaligus penanda 25 tahun perjalanan “becoming”.
Mengusung gagasan Becoming Without Arrival, pengalaman ini mempertemukan buku, percakapan lintas disiplin, serta seni visual dan audiovisual dalam satu ruang. “Becoming” dihadirkan sebagai proses yang terus bergerak, tidak semata-mata perjalanan menuju sebuah titik akhir.
Diterbitkan oleh TransMedia Pustaka, Becoming Without Arrival merupakan kumpulan esai reflektif yang dikemas dalam prosa. Melalui buku ini, Ghina menelusuri berbagai pengalaman dan emosi yang menyertai proses bertumbuh: keluarga, kehilangan, ambisi, hubungan, identitas, hingga proses memahami dan menerima diri.
Di sepanjang buku, laut hadir sebagai salah satu metafora yang berulang. Laut yang terus bergerak, berubah, surut, dan kembali menjadi ruang bagi Ghina untuk merefleksikan kehidupan yang juga tidak selalu bergerak secara linear.
“Buku ini lahir dari pemikiran bahwa bertumbuhtidakselaluberartiakhirnyasampaidisuatu tempat. Kita terus berubah, kehilangan, menemukan, danmemahamidiridengancarayang berbeda. Bagi saya, Becoming Without Arrival adalah tentang menerima bahwa proses menjadi itu sendiri sudah merupakan bagian dari kehidupan bahkan ketika kita belum tahu ke mana ia akan membawa kita,” ujar Ghina.
Salah satu agenda utama dalam peluncuran ini adalah Book Launch & Conversation “Becoming Without Arrival”,yang mempertemukan perspektif dari dunia lingkungan,budaya, film, dan jurnalisme.
Sesi ini menghadirkan Elle Wibisono, Technical Director of BlueLabat Georgetown SFS Asia Pacific; Wregas Bhanuteja, Film Director & Screen writer; serta Andini Effendi, Journalist & Documentarian. Percakapan difasilitasi oleh Gridanya Mega.
Pertemuan berbagai latar tersebut membuka ruang dialog mengenai proses kreatif, perjalanan manusia, serta bagaimana pengalaman dapat diterjemahkan menjadi karya. Percakapan ini dirancang sebagai bagian dari pengalaman literer yang lebih luas, melampaui seremoni peluncuran buku.
Laut, yang menjadi salah satu bahasa utama dalam tulisan Ghina, turut menjadi benang merah visual dalam keseluruhan pengalaman. Gagasan dalam buku kemudian diperluas melalui art exhibition yang berkolaborasi dengan Studio Hendro Hadinata, Kolektif Matter, Leon Li, dan Intan Anggita Pratiwie.
Kehadiran karya-karya visual dan audiovisual tersebut memberikan lapisan lain untuk mengalami gagasan dan atmosfer yang hadir dalam buku. Penyelenggaraan ini turut mendapat dukungan dari Ellaya, Langit Seduh, dan Goodvibes.




