Astra Sebut Kepercayaan Publik Dibangun Lewat Konsistensi dan Keberlanjutan

Astra Tekankan Konsistensi Keberlanjutan untuk Bangun Kepercayaan Publik.

JakartaHits.id – Head of Corporate Communications Astra Windy Riswantyo menilai penerapan prinsip keberlanjutan menjadi salah satu faktor penting dalam membangun kepercayaan publik terhadap perusahaan.

Menurutnya, kepercayaan tidak cukup dibangun melalui komitmen atau laporan perusahaan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata yang dilakukan secara konsisten.

“Kalau bercermin dari Astra, trust itu ditenun. Menenun itu tidak instan, penuh pemikiran dan dedikasi,” ujar Windy dalam Konvensi Humas Indonesia (KHI) di Solo, Sabtu (17/10/2026).

Dalam sesi bertajuk “Keberlanjutan sebagai Fondasi Kepercayaan” tersebut, Windy menjelaskan bahwa Astra menjadikan filosofi Catur Dharma sebagai landasan dalam menjalankan bisnis sekaligus menjaga hubungan dengan para pemangku kepentingan.

Salah satu prinsip utamanya adalah memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Karena itu, setiap keputusan bisnis perlu mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat, perekonomian, dan lingkungan.

“Apakah keputusan perusahaan bisa menciptakan lapangan pekerjaan? Apakah ada multiplier effect-nya ke ekonomi dan sosial Indonesia? Apakah merugikan komunitas dan lingkungan?” katanya.

Windy mengatakan, penerapan nilai perusahaan harus dimulai dari tingkat pimpinan hingga seluruh karyawan. Hal tersebut menjadi tantangan tersendiri mengingat Astra memiliki hampir 200 ribu karyawan yang tersebar di sekitar 300 perusahaan.

“Kalau bicara hulu, hulunya harus benar. Sebuah organisasi memang didesain dari awal untuk membangun trust yang multifaset dan multidimensi,” ujarnya.

Ia menambahkan, kepercayaan juga terbentuk melalui hal-hal sederhana, termasuk kedisiplinan, kualitas pelayanan, serta hubungan baik dengan karyawan, mitra, pemerintah, dan konsumen.

“Pada saat kami menghadiri rapat, orang Astra sangat tepat waktu. Hal-hal kecil itu terakumulasi dan membangun trust,” ungkapnya.

Sementara itu, Manajer Pilar Keberlanjutan dan Ekonomi Bappenas Setyo Budiantoro menyoroti masih lemahnya pembuktian atas klaim keberlanjutan sejumlah perusahaan.

Ia menyebut jumlah laporan keberlanjutan emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) meningkat hampir 70 persen. Namun, peningkatan tersebut belum diikuti kualitas pembuktian yang memadai.

Setyo juga mengutip hasil survei PwC yang menunjukkan hampir 94 persen investor meragukan laporan keberlanjutan perusahaan.

Menurutnya, diperlukan regulasi yang lebih tegas, termasuk pemberian penghargaan dan sanksi yang jelas, agar penerapan prinsip keberlanjutan tidak hanya bergantung pada komitmen masing-masing perusahaan.

Diskusi tersebut merupakan bagian dari rangkaian KHI yang diselenggarakan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas) pada 17–18 Oktober 2026. [Zayanul]

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button