DTIIF 2026 Tuntas Digelar, Danantara Indonesia Hasilkan Sejumlah Kemitraan Strategis untuk Perkuat Riset, Teknologi, dan Industri Nasional
Forum DTIIF 2026 Hasilkan Kemitraan Strategis Lintas Sektor.

JakartaHits.id – Danantara Indonesia berhasil menghasilkan sejumlah kemitraan strategis melalui penyelenggaraan Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 yang berlangsung selama tiga hari di Fairmont Jakarta, 28-30 Oktober 2026. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, pelaku industri, perguruan tinggi, lembaga riset, dan penyedia teknologi untuk memperkuat pengembangan industri nasional.
DTIIF 2026 dihadiri lebih dari 3.000 peserta serta menghadirkan 274 pembicara dan moderator. Sejumlah kesepakatan yang dihasilkan mencakup bidang riset, energi terbarukan, infrastruktur digital, kesehatan, hingga transportasi, termasuk pengembangan ekosistem kendaraan listrik.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia sekaligus Ketua DTIIF 2026, Sigit Puji Santosa, menegaskan bahwa berbagai penandatanganan kerja sama dalam forum tersebut bukanlah akhir dari proses kolaborasi, melainkan langkah awal untuk mewujudkan pengembangan teknologi dan industri yang lebih maju.
Ia menyebut semangat kolaborasi tersebut sejalan dengan nilai persatuan dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda yang bertepatan dengan penutupan forum.
“Pada 1928, para pemuda dari berbagai latar belakang berkumpul dengan semangat dan cita-cita bersama untuk membangun masa depan Indonesia. Hampir satu abad kemudian, semangat persatuan, kolaborasi, dan tekad tersebut tetap relevan,” ujar Sigit.
Dalam pelaksanaannya, Danantara Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) bersama Kementerian Keuangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Kementerian Perindustrian, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Kesepakatan tersebut bertujuan memperkuat sinergi antara agenda penelitian, pengembangan talenta, kebutuhan industri, mekanisme pendanaan, dan peluang investasi strategis. Kolaborasi ini diharapkan mempercepat pemanfaatan hasil riset serta meningkatkan kemampuan teknologi industri dalam negeri.
Selain itu, Danantara Indonesia menjalin kerja sama dengan BRIN dan 32 perguruan tinggi untuk membangun platform kemitraan riset, akademik, dan industri. Melalui langkah tersebut, hasil penelitian dari perguruan tinggi diharapkan lebih mudah diterapkan untuk menjawab kebutuhan dunia usaha.
Di bidang kesehatan, Danantara Development Management Fund (DDMF) bersama Institut Teknologi Bandung (ITB), Indofarma, dan PT EBM Saintifik dan Teknologi sepakat mengembangkan fitofarmaka berbasis kratom. DDMF juga menjajaki kerja sama dengan Thermo Fisher Scientific terkait teknologi ilmu hayati untuk memperkuat kapasitas penelitian dan industri kesehatan nasional.
Sejumlah kolaborasi turut dilakukan oleh perusahaan BUMN untuk mendukung pengembangan industri masa depan. Telkom Indonesia dan PLN, misalnya, menyepakati penyelarasan rencana pembangunan pusat data (data center) dengan kesiapan pasokan listrik. Kerja sama ini diperlukan agar peningkatan kapasitas pusat data berjalan seiring dengan ketersediaan energi.
Sementara itu, LEN, PLN, dan Pertamina Patra Niaga memperkuat ekosistem Motor Listrik Nasional (Molinas). Kolaborasi tersebut mencakup pengembangan infrastruktur, penyediaan energi, hingga penerapan kendaraan listrik.
Pada sektor energi terbarukan, Pertamina New & Renewable Energy dan Agrinas Palma menandatangani Heads of Agreement untuk rencana pembangunan dan pengoperasian fasilitas produksi biodiesel berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME) di Indragiri Hilir, Riau. Kesepakatan ini diarahkan untuk meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar nabati sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
Kemitraan lainnya mencakup industri maritim dan baja, keamanan siber, post-quantum cryptography, bioteknologi, serta robotika. Berbagai bidang tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan teknologi lintas sektor industri.
Selama tiga hari penyelenggaraan, DTIIF 2026 menggelar tujuh sesi Distinguished Lecture, 21 sesi pleno, dan 38 sesi panel. Forum ini juga menghadirkan sesi pitching dan showcase yang mempertemukan perusahaan BUMN, peneliti muda, serta perusahaan rintisan berbasis teknologi.
Dua sesi Distinguished Lecture menghadirkan peraih Nobel Ekonomi Peter Howitt dan Thomas J. Sargent. Keduanya membahas pertumbuhan ekonomi berbasis teknologi serta peran kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai akselerator perkembangan ekonomi.
Pembahasan dalam forum tersebut difokuskan pada enam sektor strategis, yakni energi; telekomunikasi dan infrastruktur digital; pertanian, pangan, dan kesehatan; material maju dan semikonduktor; keuangan dan perbankan; serta transportasi dan infrastruktur.
Sigit menjelaskan, DTIIF 2026 mengusung tiga tahapan utama, yaitu Imagine, Advance, dan Build. Ketiganya menggambarkan proses pengembangan teknologi, mulai dari eksplorasi teknologi terdepan, percepatan kemajuan teknologi, hingga pembangunan industri berkelanjutan.
“Ketiga tahap ini, dari frontier teknologi, kemajuan teknologi, sampai industri yang berkelanjutan, menjadi topik, tujuan, sekaligus fokus kami di Danantara,” kata Sigit.
Setelah forum berakhir, Danantara Indonesia akan melanjutkan pengawalan terhadap seluruh kesepakatan yang telah dihasilkan hingga tahap implementasi. Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat kemampuan teknologi nasional, meningkatkan daya saing industri, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.
Agenda kolaborasi internasional Danantara Indonesia selanjutnya akan diteruskan melalui penyelenggaraan perdana New Asia Forum (NAF) pada 3-4 Desember 2026 di Bali. Forum tersebut ditargetkan memperluas kemitraan strategis dan peluang investasi ke tingkat kawasan Asia. [Zayanul]





