Masyarakat Tak Perlu Panik Hadapi Dampak Geopolitik Global

JakartaHis.id – Meningkatnya suhu politik di kawasan Timur Tengah yang berimbas pada harga minyak mintah akibat terganggunya jalur transportasi di Selat Hormuz dan Laut Merah yang memiliki peran penting terhadap 30 persen jalur perdagangan minyak dunia.
Hal tersebut menurut anggota Komisi XI DPR Puteri Anetta Komarudin dikahwatirkan akan berdampak pada sector keuangan.
Terlebih, dollar index yang saat ini terus mengalami penguatan, sehingga memberikan tekanan pada nilai tukar Rupiah. Bagi sektor riil, dampak depresiasi nilai tukar akan sangat berpengaruh terhadap impor.
Untuk mengantisipasi hal tersebut Puteri mendorong Bank Indonesia bersama pemerintah untuk terus berada di pasar guna melakukan intervensi guna menstabilkan nilai tukar Rupiah.
Puteri juga meminta masyarakat untuk tenang dan tidak memicu kepanikan di pasar. Sebab DPR akan terus mengimbau pemerintah dan otoritas terkait untuk memantau situasi terkini serta menyiapkan upaya mitigasi risiko sehingga ketegangan ini tidak menimbulkan dampak yang dalam bagi masyarakat.
Selain itu, masyarakat juga diminta untuk mengurangi impor terutama yang bersifat konsumtif. Karena dikhawatirkan bisa menimbulkan tekanan terhadap nilai tukar Rupiah.
“Sebaiknya kita tetap memprioritaskan belanja pada produk UMKM lokal. Lantaran, UMKM menjadi penopang utama perekonomian kita,” ujar Puteri.
Sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan bahwa pemerintah selalu menyiapkan skenario untuk meredam dampak gejolak geopolitik global ke perekonomian Indonesia terutama bagi sektor riil.
“Skenario, pemerintah selalu siapkan. Namun sekarang kita masih menunggu perkembangan (konflik Iran-Israel),” kata Airlangga saat konferensi pers di Jakarta, Kamis (18/4).
Airlangga mengatakan sejauh ini potensi eskalasi antara Iran dan Israel belum terlihat signifikan. Pemerintah Indonesia juga masih mencermati perkembangan arah gejolak geopolitik di antara dua negara tersebut.





