Defisit APBN 2025 Diproyeksi Tembus 2,7% PDB, Sri Mulyani: Ada Tekanan Fiskal Serius
Menkeu: Disiplin fiskal tetap dijaga meski tekanan makin besar
JakartaHits.id – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengumumkan bahwa defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun 2025 berpotensi melebar hingga 2,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melampaui target awal pemerintah yang berada di kisaran 2,29% PDB, menandai tekanan fiskal yang meningkat di tengah pelemahan ekonomi global dan peningkatan belanja domestik, Jakarta 28 juli 2025.
“Defisit ini terjadi akibat kombinasi dari meningkatnya kebutuhan belanja prioritas nasional dan penerimaan negara yang belum sepenuhnya pulih,” jelas Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, Senin (28/7/25).
Kenaikan defisit ini dipicu oleh beberapa faktor utama, di antaranya:
- peningkatan subsidi energi, terutama akibat volatilitas harga minyak dunia.
- Perluasan bantuan sosial, termasuk program-program perlindungan masyarakat miskin dan rentan.
- Proyek strategis nasional, seperti pembangunan infrastruktur, pendidikan, dan pertahanan.
Di sisi lain, pendapatan negara terutama dari sektor pajak dan kepabeanan belum menunjukkan pertumbuhan signifikan, meski pemerintah telah mengintensifkan reformasi perpajakan dan digitalisasi layanan fiskal.
“Kami tetap menjaga agar pelebaran defisit tidak melebihi batas aman. Disiplin fiskal tetap menjadi prinsip utama,” tegas Menkeu.
Pemerintah berkomitmen menjaga defisit tetap di bawah ambang batas 3% dari PDB, sesuai ketentuan dalam UU Keuangan Negara.
Untuk menutup defisit, Kementerian Keuangan akan mengandalkan penerbitan surat utang negara, dukungan lembaga multilateral, dan optimalisasi pembiayaan investasi.
Ekonom menilai, lonjakan defisit ini perlu dikawal ketat agar tidak memicu tekanan pada nilai tukar, inflasi, maupun persepsi investor asing terhadap stabilitas fiskal Indonesia.
(Rahim Al Awal)




