Mahasiswa KKN Universitas Ibnu Chaldun Mengungkap Realitas Petani Penggarap Lahan Titipan Di Cinagara
Petani Rela Menggarap Sawah Orang Demi Keluarga
JakartaHits.id – Kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di wilayah Cibeling memberikan wawasan berharga bagi sekelompok mahasiswa yang tengah memetakan potensi pertanian desa setempat. Di tengah perjalanan menyusuri hamparan sawah yang diapit perbukitan hijau, sebuah wawancara dadakan dilakukan dengan seorang petani lokal yang sedang sibuk memanen padi.

Wawancara santai ini berlangsung tepat di pematang sawah. Sang petani tampak begitu telaten membanting ikatan padi ke alat perontok kayu secara manual, ditemani sebuah orang-orangan sawah sederhana dan gubuk bambu di latar belakang.
Dari perbincangan hangat tersebut, terungkap sebuah realitas agraria yang ternyata lumrah terjadi di kawasan Cibeling. Petani itu menjelaskan bahwa lahan pertanian subur yang sedang dipanen rupanya bukanlah milik pribadinya. Sawah tersebut merupakan aset tanah milik warga yang berdomisili di Jakarta. Untuk mengelola lahan, diterapkan sistem kerja sama bagi hasil antara pemilik tanah sebagai pemodal dan warga lokal sebagai penggarap, di mana penggarap bertanggung jawab penuh merawat tanaman sejak masa persemaian benih hingga panen tiba.
Menariknya, saat ditanya mengenai sistem pembagian keuntungan yang didapat, sang petani memberikan jawaban yang sangat membumi. Pembagian hasil yang diterima dari pemilik tanah tidak lantas diukur dengan nilai uang yang besar. Bagian hasil panen yang menjadi hak pihak yang mengurusi lahan murni diwujudkan dalam bentuk gabah atau beras yang ditujukan untuk dikonsumsi sendiri bersama keluarga. Jerih payah mengurus sawah ini dilakukan murni demi memenuhi kebutuhan pangan subsisten, bukan untuk diproduksi secara massal.
Meskipun panen di Cibeling dilakukan secara tradisional, proses pascapanen ternyata tetap membutuhkan usaha dan biaya tambahan dari pihak penggarap. Petani tersebut menuturkan bahwa untuk mengolah gabah hasil panen menjadi beras putih, ia tidak memiliki alat giling sendiri. Para penggarap harus membawa berkarung-karung gabah turun ke daerah bawah, tepatnya di wilayah Desa Cinagara. Di lokasi tersebut, mereka menyewa jasa mesin penggilingan padi dengan sistem bayar sewa dari kantong pribadi agar beras bisa segera dibawa pulang ke rumah.

Wawancara singkat dan dadakan di tengah ladang ini membuka mata para mahasiswa KKN Universitas Ibnu Chaldun Prodi Ilmu Komunikasi mengenai dinamika sosial dan ekonomi masyarakat pedesaan. Kisah petani Cibeling ini menjadi cerminan nyata dari sistem pertanian di mana keringat dan tenaga warga lokal menghidupi lahan investasi milik orang kota. Lebih dari sekadar urusan bisnis, bagi para penggarap, lahan ini adalah tumpuan harapan yang wujudnya sangat sederhana.




