Melestarikan Tradisi dan Budaya Sedekah Bumi di Era Modern

Jakartahits.id – Indonesia memiliki berbagai adat istiadat dan tradisi yang berbeda beda di setiap daerahnya. Salah satunya yaitu tradisi sedekah bumi atau biasa dikenal dengan Nyadran. Nyadran merupakan suatu  bentuk rasa syukur masyarakat  terhadap Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang telah diberikan olehnya.

Di Indonesia khususnya di Pulau Jawa ada beberapa desa lain yang sudah tidak melaksanakan tradisi ini. Masyarakat menganggap tradisi yang dilakukan dalam sedekah bumi adalah hal yang menyekutukan Tuhan. Namun masih cukup banyak desa-desa yang masih melaksanakan salah satunya di Desa Kanorejo, Jawa Timur.

Menurut pengakuan Purwanto salah satu masyarakat di Desa Kanorejo, Nyadran atau Sedekah Bumi sudah ada jauh saat zaman nenek moyangnya, jadi purwanto lebih memilih melestarikan tradisi ini.

Purwanto juga mengatakan bahwa sebelum dilakukannya sedekah bumi biasanya keluarganya menyiapkan makanan untuk dibagikan ke tetangga atau ke saudara dekat maupun jauh seminggu sebelum hari tiba. Menurut keluarganya hari sebelum dilaksanakannya nyadran masyarakat desa boleh membagikan makanan mereka setelah ditentukan kapan hari nyadran tiba

Sedekah Bumi Sebagai Wujud Rasa Syukur Masyarakat

Merangkum dari berbagai sumber, nyadran, manganan atau sebutan lain masyarakat setempat merupakan wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa setelah menerima hasil bumi yang melimpah. Tradisi ini sudah berlangsung secara turun menurun dari nenek moyang.

Melalui tradisi ini warga berharap agar diberi banyak limpahan rezeki dan dijauhkan dari bahaya oleh Yang Maha Kuasa. Sedekah bumi juga dilakukan untuk mempererat persaudaraan antar warga.

Selain itu sedekah bumi juga bertujuan meneruskan atau melestarikan budaya Jawa. Di Desa Kanorejo setiap tahunnya pasti mengadakan kegiatan tradisional tersebut dengan hiburan wayang kulit siang dan malam.

Baca Juga : Kemendikbudristek Gelar Lomba Kompetensi Siswa Berkebutuhan Khusus

Sebelum hiburan wayang kulit , masyarakat mengunjungi pemakaman  yang merupakan makam yang disinyalir  merupakan makam nenek moyang mereka. Setiap hari tradisi nyadran tiba, masyarakat desa hanya berdoa di pemakaman ini. Setelahnya, mereka mengumpulkan makanan yang dibawa masing-masing keluarga kemudian dibagikan kepada masyarakat desa yang datang juga di pemakaman.

Diakhir purwanto mengatakan terkait tradisi daerahnya yang kini telah memasuki zaman modern. Menurutnya, tradisi nyadran tetap harus dipertahankan dalam hal positif. Apalagi tradisi ini sudah ada sejak zaman para nenek moyang, dan bisa menjadi identitas daerah. Berharap tradisi ini tetap ada, jangan sampai tergantikan dengan budaya baru di zaman modern. (RFR)*

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button