8 Cara Mempererat Kebersamaan dalam Keluarga
Jakarta.id – Perkembangan zaman yang begitu pesat ternyata turut mempengaruhi dinamika dalam keluarga. Terutama dalam hal hubungan emosional antar anggota keluarga.
Keadaan ini mengurangi intensitas anggota keluarga untuk berkomunikasi secara langsung dan merasakan kebersamaan dan kedekatan antara satu sama lain.
Hanny Muchtar Darta, Emotional Intelligence Parenting Consultant dalam sebuah kesempatan menyampaikan akan pentingnya kebersamaan secara emosional dalam keluarga.
Adakalanya kita merasa prihatin saat memperhatikan interaksi sebuah keluarga dalam suatu resto dimana sang ayah dan kedua anak sibuk dengan laptopnya masing-masing, sementara sang ibu sibuk dengan gadgetnya.
Mereka bersama secara fisik tetapi tidak ada kebersamaan secara emosional karena masing-masing sibuk dengan gadgetnya.
Hasil survei terhadap orang tua menunjukkan bahwa sekitar 70% anak mereka memiliki gadget, dua yang utama adalah handphone dan laptop.
Tiga masalah utama yang dihadapi orang tua adalah: kesulitan berkomunikasi dengan anak, merasa anak sulit diarahkan, dan sulit memahami anak.
Sementara tiga masalah utama yang anak rasakan adalah: orang tua jarang meluangkan waktu dengan anak, orang tua asyik dengan gadgetnya dan anak sulit berkomunikasi dengan orang tua.
Ketika berinteraksi anak merasa orang tua mudah marah sehingga anak merasa takut. Orang tua dan anak memiliki keinginan sama yaitu, ingin anak disiplin, bertanggung jawab dan jujur.
Untuk itu ada banyak cara yang bisa dilakukan keluarga agar kebersamaan dalam keluarga dapat terwujud diantaranya delapan cara berikut
Mengontrol emosi.
Hasil survey menunjukkan sekitar 5 dari 10 anak berpendapat bahwa orang tua mereka suka marah. Hindari emosi negatif seperti marah, kesal dan kecewa ketika ada sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan Anda. Juga hindari memotong pembicaraan dan menyalahkan anak;
Beraktivitas bersama.
Hasil survey menunjukkan 1 dari 10 anak merasa dekat dengan ayah dan 3 dari 10 anak merasa dekat dengan ibu. Usahakan untuk meluangkan waktu setiap harinya minimal 15 menit bersama keluarga, misalnya dengan melakukan sarapan, makan malam, ataupun ibadah bersama;
Tetapkan aturan.
Buatlah aturan ketika keluarga sedang bersama, telepon maupun komputer harus dimatikan dan komunikasi dilakukan secara langsung. Hal ini merupakan bagian dari mengembangkan perilaku disiplin;
Kontak mata.
Ketika sedang mendengarkan berikan tatapan mata penuh kasih sayang dan perhatian penuh. Agar anak merasa diperhatikan dan didengarkan. Dengan melakukan kontak mata yang baik sambil memperhatikan ekspresi wajah dan bahasa tubuh kita pun dapat memahami perasaan anak kita;
Bercerita.
Hasil survey menunjukkan hanya 2 dari 10 orang tua berbagi cerita dengan anaknya. Padahal aktivitas ini sangat penting untuk membangun kedekatan emosi dengan anak. Mulailah dengan menceritakan perasaan Anda akan apa yang terjadi pada hari itu. Setelah itu, giliran anak-anak untuk bercerita. Jika anak belum mau, hindari untuk memaksakan dan membandingkannya dengan sang kakak atau adik;
Simak dan ulangi.
Dengarkan anak dengan penuh perhatian dan ulangi kembali pernyataannya sebagai bukti bahwa Anda telah mendengar dengan baik dan Anda memahami perasaannya. Misalnya: ”Jadi Randy merasa kesal karena tadi di sekolah temanmu bilang potongan rambutmu aneh?”;
Validasi.
Hasil survey menunjukkan sekitar 8 dari 10 orangtua memperbaiki emosi negatif anak. Hindari untuk memperbaiki perasaan anak. Sebaiknya hal yang harus Anda lakukan adalah memvalidasi perasaan anak, misalnya: ”Bunda memahami perasaan Randy dan menurutmu apa yang sebaiknya kamu atau Bunda lakukan untuk membuatmu lebih nyaman?”;
Pesan positif.
Gunakan waktu bersama menyampaikan nilai-nilai positif untuk mengembangkan perilaku positif, membangun kebiasaan baik seperti gaya hidup sehat dengan mengkonsumsi makanan sehat dan berolah raga secara teratur.





