Banyak Serangan Siber Terjadi Saat Kita Menonton Anime
Serangan tersebut banyak menyasar penonton muda di platform streaming favorit mereka, memanfaatkan popularitas anime untuk menyebarkan malware atau file berbahaya
JakartaHits.id – Para pelaku kejahatan siber kini semakin cerdik dalam menjalankan aksinya. Selama periode kuartal kedua 2024 hingga kuartal pertama 2025, sudah ada lebih dari 250 ribu serangan siber yang dikamuflasekan sebagai anime terkenal.
Serangan tersebut banyak menyasar penonton muda di platform streaming favorit mereka, memanfaatkan popularitas anime untuk menyebarkan malware atau file berbahaya.
Menurut data Kaspersky dilansir dari Detik.com, lebih dari 65% Gen Z rutin menonton anime, menjadikan mereka sebagai generasi paling gemar anime sepanjang sejarah.
Mereka menelusuri lima judul anime populer yang paling sering dimanfaatkan untuk penipuan: Naruto, One Piece, Demon Slayer, Attack on Titan, dan Jujutsu Kaisen.
Secara khusus, Naruto digunakan dalam 114.216 percobaan serangan, menjadikannya yang paling sering dimanfaatkan, diikuti oleh Demon Slayer (44.200 serangan) dan Attack on Titan (39.433 serangan).
Tak hanya anime, Kaspersky juga menganalisis lima film dan serial favorit Gen Z lainnya seperti Shrek, Stranger Things, Twilight, Inside Out 2, dan Deadpool & Wolverine.
Dari konten ini saja, terdapat 43.302 upaya serangan, dengan lonjakan besar pada Maret 2025, terutama pada film Shrek yang mencatatkan lebih dari 36.000 serangan dua kali lipat dari rata-rata bulanan tahun sebelumnya.
Para penjahat siber juga memanfaatkan nama-nama platform streaming seperti Netflix, Amazon Prime Video, Disney+, Apple TV+, dan HBO Max untuk menyamar. Total ada 96.288 upaya penyebaran file berbahaya menggunakan nama-nama platform tersebut.
Netflix menjadi target utama, terlibat dalam 85.679 serangan, dan tercatat lebih dari 2,8 juta halaman phishing yang meniru layanannya. Modusnya termasuk membuat halaman login palsu, menyebar tautan “free trial” palsu, dan mengirim email pengaturan ulang kata sandi untuk mengecoh pengguna.
Vasily Kolesnikov, pakar keamanan dari Kaspersky, menekankan bahwa penjahat siber kini memanfaatkan budaya digital yang digemari Gen Z untuk menyebarkan ancaman baru. Oleh karena itu, kesadaran dan pengetahuan tentang keamanan digital menjadi semakin penting untuk generasi muda di era digital ini.
(Muhammad Sulton As Sakandayas)




