“Ritual Gaib: Nyai Randasura” Tembus 38 Negara, Produser Siapkan Pengembangan IP
Film produksi Anak Negeri Films ini membawa kisah ritual gaib Indonesia ke pasar internasional dengan distribusi awal di 38 negara.

JakartaHits.id – Film “Ritual Gaib: Nyai Randasura” memperluas jangkauannya ke pasar internasional. Film produksi Anak Negeri Films itu akan didistribusikan ke 38 negara sebagai langkah awal memperkenalkan cerita bernuansa ritual gaib Indonesia kepada penonton global.
Produser Fajri Kieflie mengatakan film tersebut sejak awal dikembangkan sebagai intellectual property (IP) yang tidak berhenti pada satu produksi.
“Ritual Gaib ini adalah IP. Ini bukanlah yang terakhir, ini masih awal dari sebuah perjalanan panjang memperkenalkan dunia ritual gaib Indonesia ke seluruh dunia,” kata Fajri saat konferensi pers dan gala premiere di Jakarta, Selasa (15/9).
Menurut dia, jangkauan 38 negara menjadi pembuka bagi rencana distribusi yang lebih besar.
“Harapannya dengan apa yang kita mulai hari ini, kita awal rilis di 38 negara dulu. Harapannya nanti bisa ke seluruh dunia,” ujarnya.
Nuansa internasional film tersebut juga terlihat dalam proses produksinya. Intan Kieflie menyutradarai film bersama Stuart Simpson, sineas asal Australia yang banyak berkecimpung dalam genre horor.
Perbedaan pengalaman keduanya kemudian menjadi dasar pembagian tugas selama proses kreatif.
“Stuart itu tidak pernah membuat film kalau bukan horor. Dan saya selalu membuat film pasti drama. Jadi Ratu Drama ketemu Raja Iblis, jadilah film ini,” ujar Intan.
Stuart menangani banyak bagian yang berkaitan dengan unsur horor dan ketegangan. Sementara Intan lebih fokus pada drama, karakter, komunikasi dengan pemain, dan pengembangan cerita.
“Bagian Stuart itu eksekusi horornya. Bagian saya lebih ke dramanya, berkomunikasi dengan aktor, dan desain cerita. Kita mengembangkan ceritanya bareng,” jelas Intan.
Karena pendekatan tersebut, Intan menilai “Ritual Gaib: Nyai Randasura” tidak sepenuhnya berada dalam jalur horor murni. Drama keluarga justru menjadi fondasi utama cerita.
“Film ini enggak bisa disebut film horor murni sebenarnya, karena ini lebih banyak drama tapi berbumbu horor,” katanya.
Film itu juga tidak dirancang dengan mengandalkan rentetan jump scare.
“Kita membuat film ini bukan untuk penonton yang mencari jump scare penuh bertubi-tubi sampai kaget-kaget, tapi film ini ditujukan untuk pencinta film horor tapi penakut level satu,” ucap Intan.
Seluruh proses pengambilan gambar dilakukan di Indonesia. Adapun tahap pengembangan serta sebagian pascaproduksi berlangsung di Australia.
“Untuk lokasi syuting semuanya di Indonesia. Cuma kita mengembangkannya di Australia, dan beberapa pascaproduksi kami lakukan di sini dan di Australia,” tutur Intan.
Proyek tersebut dikerjakan selama sekitar dua tahun dan menjadi debut Intan sebagai sutradara film panjang.
“Ini karya pertama saya dan sangat banyak kekurangannya, meskipun kami berusaha memperbaikinya di pascaproduksi. Ini kerja keras selama dua tahun saya dan teman-teman,” katanya.
Cerita dalam film juga memiliki latar personal bagi Intan. Ia menyebut karakter Laras dan Radit terinspirasi dari pasangan yang dekat dengan keluarganya.
“Pasangan Laras dan Radit itu adalah orang yang sangat dekat dengan keluarga kita. Kita percaya kalau jin itu ada, dan kekuatan cinta mereka serta kekuatan iman mereka kepada Allah itulah yang menyelamatkan mereka sampai hari ini,” ungkapnya.
Pengalaman serupa turut disampaikan Ricky, pemeran Burhan. Ia mengaku tumbuh di lingkungan yang masih mengenal praktik ritual gaib.
“Saya dibesarkan di daerah dan hidup di antara beberapa anggota keluarga yang juga pernah menjadi korban ritual gaib, sampai ada yang meninggal, sepupu saya,” kata Ricky.
Bagi Ricky, film tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga membawa informasi mengenai praktik ritual gaib yang menurut pengalamannya masih ada di masyarakat.
“Akhirnya ada film yang mengangkat tentang ritual gaib ini untuk jadi informasi, pengetahuan, dan pesan kepada teman-teman di luar sana bahwa hal ini memang benar ada,” ujarnya.
Selain jajaran pemain dan sutradara, produksi film turut melibatkan Vania Soegianto sebagai Associate Producer.
Syifah Mahirah juga terlibat sebagai penulis sekaligus penyanyi lagu tema “Pergi Tanpa Suara”.
“Di proyek ini aku alhamdulillah diberi kesempatan untuk jadi penulis lagu dan juga penyanyi untuk musik latarnya. Lagunya judulnya ‘Pergi Tanpa Suara’,” kata Syifah.
“Ritual Gaib: Nyai Randasura” dijadwalkan mulai tayang di Indonesia pada 17 September 2026 melalui CGV dan sejumlah bioskop terpilih. [Zayanul]



